Home » » BAB 8 LIGHTING LOAD

BAB 8 LIGHTING LOAD

HANDBOOK HVAC FORMULA

RIJOMAC SYSTEM

Controlled Environment Engineering


8.1 PENDAHULUAN

Lampu merupakan salah satu sumber panas yang sering diabaikan dalam perhitungan Cooling Load.

Padahal hampir seluruh energi listrik yang digunakan oleh lampu pada akhirnya akan berubah menjadi panas di dalam ruangan.

Pada beberapa aplikasi seperti:

  • Kantor

  • Laboratorium

  • Cleanroom

  • Rumah Sakit

  • Ruang Operasi

  • Area Produksi

Lighting Load dapat memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap total beban pendinginan.

Karena itu perhitungan heat gain dari lampu harus menjadi bagian dari Cooling Load Calculation.


8.2 APA ITU LIGHTING LOAD?

Lighting Load adalah beban panas yang berasal dari sistem pencahayaan.

Energi listrik yang digunakan lampu akan berubah menjadi:

✓ Cahaya

✓ Panas

Namun pada akhirnya sebagian besar energi tersebut akan menjadi panas yang harus dibuang oleh sistem HVAC.


8.3 KARAKTERISTIK LIGHTING LOAD

Lighting Load termasuk:

✓ Sensible Heat

✗ Bukan Latent Heat


Karena lampu tidak menghasilkan uap air secara langsung.

Lighting Load hanya meningkatkan temperatur ruangan.


8.4 SUMBER LIGHTING LOAD

Sumber beban pencahayaan:

✓ Lampu LED

✓ Lampu Fluorescent

✓ Lampu Halogen

✓ Lampu HID

✓ Lampu Operasi

✓ Lampu Proses


Semakin besar daya listrik yang digunakan:

Semakin besar heat gain yang dihasilkan.


8.5 RUMUS DASAR LIGHTING LOAD

Pendekatan sederhana:

Q=P

Dimana:

Q = Heat Gain (W)

P = Daya Lampu (W)


Artinya:

1 Watt listrik ≈ 1 Watt panas


8.6 CONTOH PERHITUNGAN

Data:

10 Lampu LED

Daya:

40 Watt per lampu


Total Daya:

10 × 40

=

400 Watt


Heat Gain:

400 Watt

=

0,4 kW


Hasil:

Lighting Load

= 0,4 kW


8.7 LIGHTING POWER DENSITY (LPD)

LPD digunakan untuk memperkirakan kebutuhan pencahayaan suatu ruangan.

Rumus:

LPD=\frac{P}{A}

Dimana:

LPD = Lighting Power Density (W/m²)

P = Total Daya Lampu (W)

A = Luas Ruangan (m²)


8.8 CONTOH LPD

Data:

Total Lampu

600 Watt


Luas Ruangan

50 m²


LPD:

600 ÷ 50

=

12 W/m²


Hasil:

LPD = 12 W/m²


8.9 INTERPRETASI LPD

Nilai LPD memberikan gambaran seberapa besar beban pencahayaan pada suatu area.


Semakin tinggi LPD:

✓ Konsumsi energi meningkat

✓ Cooling Load meningkat


8.10 NILAI UMUM LPD

AreaLPD (W/m²)
Kantor8 – 15
Laboratorium10 – 18
Cleanroom12 – 20
Rumah Sakit10 – 20
Area Produksi10 – 25

Nilai aktual tergantung standar pencahayaan dan kebutuhan proses.


8.11 LIGHTING LOAD DAN COOLING LOAD

Karena Lighting Load merupakan Sensible Heat:

Maka seluruh beban lampu akan masuk ke perhitungan Cooling Load.


Contoh:

Lighting Load

3 kW


Maka:

Cooling System harus mampu membuang tambahan panas sebesar 3 kW.


8.12 LIGHTING LOAD DAN CLEANROOM

Pada cleanroom:

Lampu sering digunakan dalam jumlah besar untuk mendukung inspeksi visual dan proses produksi.


Akibatnya:

Lighting Load dapat menjadi cukup signifikan.


Selain itu lampu sering dipasang di dalam sistem ceiling cleanroom sehingga panasnya langsung masuk ke area proses.


8.13 LIGHTING LOAD DAN RUMAH SAKIT

Pada rumah sakit:

Sumber Lighting Load:

✓ General Lighting

✓ Examination Lighting

✓ Operating Light


Khusus ruang operasi, kontribusi lampu operasi terhadap Cooling Load dapat cukup besar.


8.14 LIGHTING LOAD DAN LABORATORIUM

Laboratorium memerlukan tingkat pencahayaan yang relatif tinggi.


Akibatnya:

LPD sering lebih tinggi dibanding kantor biasa.


Perhitungan heat gain dari lampu harus dilakukan secara akurat.


8.15 PENGARUH TEKNOLOGI LAMPU

LED

✓ Efisien

✓ Heat Gain lebih rendah

✓ Umur panjang


Fluorescent

✓ Cukup efisien

✓ Masih menghasilkan panas


Halogen

✓ Heat Gain tinggi

✓ Konsumsi energi tinggi


LED menjadi pilihan yang paling umum pada fasilitas modern.


8.16 LIGHTING LOAD DAN ENERGY EFFICIENCY

Penggunaan lampu yang efisien memberikan dua keuntungan:

✓ Konsumsi listrik lampu turun

✓ Cooling Load HVAC turun


Artinya terjadi penghematan ganda.


8.17 STUDI KASUS

Kasus:

Area Produksi.


Luas:

100 m²


Lampu:

15 unit × 100 Watt


Total:

1.500 Watt

=

1,5 kW


Heat Gain:

1,5 kW


Artinya sistem HVAC harus membuang tambahan panas sebesar 1,5 kW yang berasal dari lampu.


8.18 KESALAHAN UMUM

✗ Mengabaikan Lighting Load.

✗ Tidak menghitung total daya lampu.

✗ Menggunakan asumsi terlalu rendah.

✗ Tidak memperhitungkan lampu proses.

✗ Mengabaikan pengaruh lampu operasi.


8.19 CARA BERPIKIR ENGINEER

Ketika menghitung Cooling Load, banyak orang hanya fokus pada:

✓ AC

✓ Mesin

✓ Penghuni


Engineer juga akan bertanya:

✓ Berapa jumlah lampu?

✓ Berapa total daya lampu?

✓ Berapa LPD?

✓ Berapa kontribusinya terhadap Cooling Load?

Karena seluruh energi listrik yang masuk ke ruangan pada akhirnya akan menjadi panas yang harus dibuang.


8.20 RINGKASAN

Lighting Load merupakan beban panas yang berasal dari sistem pencahayaan.

Karakteristik utama:

✓ Termasuk Sensible Heat.

✓ Meningkatkan temperatur ruangan.

✓ Menambah Cooling Load.

Rumus dasar:

Q=P

Lighting Power Density:

LPD=\frac{P}{A}

Prinsip penting:

✓ Semakin besar daya lampu, semakin besar Heat Gain.

✓ Lighting Load harus masuk ke perhitungan Cooling Load.

✓ Lampu yang efisien membantu mengurangi konsumsi energi HVAC.

Dalam banyak proyek HVAC, lampu memang bukan sumber panas terbesar.

Namun mengabaikannya dapat menyebabkan perhitungan Cooling Load menjadi tidak akurat.

Contact

PT RIJOMAC SEMBILAN SEMBILAN
Controlled Environment Engineering

WhatsApp: 0818-704-677
Email: rijomac.system@gmail.com
Workshop: Gunung Putri, Bogor - Jawa Barat