Home » » BAB 5 – COOLING COIL & HEAT TRANSFER

BAB 5 – COOLING COIL & HEAT TRANSFER

5.1 Pendahuluan

Cooling coil merupakan salah satu komponen terpenting dalam Air Handling Unit (AHU). Komponen ini berfungsi untuk memindahkan panas dari udara ke media pendingin sehingga temperatur udara dapat diturunkan sesuai kebutuhan.

Selain menurunkan temperatur, cooling coil juga berperan dalam proses dehumidifikasi karena sebagian uap air dalam udara akan mengembun pada permukaan coil yang suhunya lebih rendah dari titik embun (dew point).

Pada sistem HVAC modern, performa cooling coil sangat menentukan:

  • Kapasitas pendinginan

  • Pengendalian kelembapan

  • Konsumsi energi

  • Kualitas udara

  • Stabilitas proses


5.2 Prinsip Dasar Perpindahan Panas

Cooling coil bekerja berdasarkan prinsip perpindahan panas (heat transfer).

Panas selalu berpindah dari temperatur yang lebih tinggi ke temperatur yang lebih rendah.

Pada cooling coil:

  • Udara memiliki temperatur lebih tinggi

  • Air dingin atau refrigeran memiliki temperatur lebih rendah

Akibatnya panas berpindah dari udara ke media pendingin.


5.3 Mekanisme Heat Transfer

Terdapat tiga mekanisme perpindahan panas:

Konduksi (Conduction)

Perpindahan panas melalui material padat.

Contoh:

  • Panas berpindah dari udara ke sirip (fin)

  • Dari fin ke tube

  • Dari tube ke chilled water atau refrigeran


Konveksi (Convection)

Perpindahan panas antara fluida dan permukaan.

Pada coil:

  • Udara mengalir melewati fin

  • Panas dipindahkan ke permukaan coil

Konveksi merupakan mekanisme utama pada cooling coil.


Radiasi (Radiation)

Perpindahan panas melalui gelombang elektromagnetik.

Pengaruhnya relatif kecil dibandingkan konduksi dan konveksi dalam AHU.


5.4 Komponen Cooling Coil

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Cooling coil umumnya terdiri dari:

Tube

Berfungsi mengalirkan media pendingin.

Material umum:

  • Copper

  • Stainless Steel


Fin

Memperluas area perpindahan panas.

Material umum:

  • Aluminium

  • Copper

  • Stainless Steel


Header

Menghubungkan beberapa tube menjadi satu rangkaian aliran.


Casing Frame

Menopang struktur coil.


Drain Pan

Menampung kondensat yang terbentuk selama proses pendinginan.


5.5 Jenis Cooling Coil

Chilled Water Coil

Menggunakan air dingin dari chiller.

Karakteristik:

  • Stabil

  • Cocok untuk kapasitas besar

  • Mudah dikontrol

Aplikasi:

  • Rumah sakit

  • Cleanroom

  • Gedung besar

  • Industri


DX Coil (Direct Expansion)

Menggunakan refrigeran langsung.

Karakteristik:

  • Sistem lebih sederhana

  • Tidak memerlukan chiller

Aplikasi:

  • Split duct

  • Package unit

  • AHU kapasitas kecil dan menengah


5.6 Parameter Penting Cooling Coil

Airflow

Jumlah udara yang melewati coil.

Satuan:

  • CFM

  • m³/h


Entering Air Temperature (EAT)

Temperatur udara sebelum melewati coil.


Leaving Air Temperature (LAT)

Temperatur udara setelah melewati coil.


Chilled Water Temperature

Temperatur air masuk dan keluar coil.

Contoh umum:

  • 7°C / 12°C

  • 6°C / 11°C


Refrigerant Evaporating Temperature

Digunakan pada DX Coil.


5.7 Sensible Cooling dan Latent Cooling

Cooling coil menangani dua jenis beban.

Sensible Cooling

Penurunan temperatur udara tanpa perubahan kandungan uap air.

Contoh:

  • Lampu

  • Mesin

  • Dinding

  • Atap


Latent Cooling

Pengurangan kandungan uap air dalam udara.

Terjadi saat:

  • Suhu coil lebih rendah dari dew point udara


Total Cooling Load

Merupakan gabungan:

Q_{total}=Q_{sensible}+Q_{latent}


5.8 Dew Point dan Kondensasi

Dew point adalah suhu saat udara mulai mengalami kondensasi.

Jika:

  • Suhu coil < Dew Point

Maka:

  • Uap air berubah menjadi air kondensat

  • RH udara menurun

Inilah prinsip dasar dehumidifikasi menggunakan cooling coil.


5.9 Face Velocity pada Cooling Coil

Face velocity adalah kecepatan udara yang melewati permukaan coil.

Nilai umum:

AplikasiFace Velocity
AHU Umum2,0–2,5 m/s
Rumah Sakit2,0–2,5 m/s
Cleanroom1,8–2,2 m/s
Farmasi1,8–2,2 m/s

Face velocity terlalu tinggi dapat menyebabkan:

  • Pressure drop meningkat

  • Carry over kondensat

  • Efisiensi perpindahan panas menurun


5.10 Row Coil

Jumlah row menunjukkan kedalaman coil.

Contoh:

  • 4 Row

  • 6 Row

  • 8 Row

  • 10 Row

Semakin banyak row:

  • Kapasitas pendinginan meningkat

  • Pressure drop meningkat

  • Ukuran coil lebih besar


5.11 Fin Density (FPI)

FPI (Fins Per Inch) menunjukkan jumlah sirip per inci.

Nilai umum:

Tipe CoilFPI
HVAC Umum8–12
Cleanroom8–10
Industri Korosif6–8

FPI terlalu tinggi dapat menyebabkan coil lebih cepat kotor.


5.12 Pressure Drop pada Coil

Cooling coil menimbulkan hambatan terhadap aliran udara.

Faktor yang mempengaruhi:

  • Jumlah row

  • FPI

  • Face velocity

  • Kebersihan coil

Pressure drop coil biasanya berkisar:

  • 50–250 Pa

Tergantung desain coil.


5.13 Coil Fouling

Fouling adalah penumpukan kotoran pada permukaan coil.

Penyebab:

  • Filter tidak efektif

  • Debu berlebih

  • Lingkungan korosif

Dampak:

  • Kapasitas pendinginan turun

  • Pressure drop naik

  • Konsumsi energi meningkat


5.14 Material Cooling Coil

Standard HVAC

KomponenMaterial
TubeCopper
FinAluminium
FrameGalvanized

Farmasi dan Industri Korosif

KomponenMaterial
TubeSS304 / SS316
FinSS304 / SS316
FrameStainless Steel

5.15 Drain Pan dan Kondensat

Saat coil melakukan dehumidifikasi, air kondensat akan terbentuk.

Drain pan harus:

  • Miring ke arah drain

  • Mudah dibersihkan

  • Tidak menimbulkan genangan

  • Tahan korosi

Material yang umum digunakan:

  • SS304

  • SS316

Genangan air dapat menjadi sumber pertumbuhan mikroorganisme.


5.16 Pengaruh Cooling Coil terhadap RH

Cooling coil merupakan komponen utama pengendalian kelembapan pada HVAC.

Semakin rendah suhu coil:

  • Semakin besar kemampuan menghilangkan uap air

  • RH ruang lebih mudah dikontrol

Namun suhu coil yang terlalu rendah dapat menyebabkan:

  • Icing

  • Konsumsi energi meningkat

  • Kontrol suhu menjadi tidak stabil


5.17 Kesalahan Umum pada Cooling Coil

KesalahanDampak
Coil terlalu kecilKapasitas tidak cukup
Face velocity terlalu tinggiCarry over
Filter burukCoil cepat kotor
Drain tersumbatAir meluap
Coil korosiKebocoran
Chilled water flow tidak sesuaiKapasitas turun
Pemilihan row tidak tepatEfisiensi rendah

5.18 Kesimpulan

Cooling coil merupakan pusat proses pendinginan dan dehumidifikasi pada AHU. Kinerja coil dipengaruhi oleh desain, material, airflow, face velocity, jumlah row, fin density, serta kondisi operasional sistem.

Pemahaman terhadap prinsip heat transfer dan karakteristik cooling coil sangat penting dalam proses desain, seleksi, commissioning, troubleshooting, serta optimasi sistem HVAC untuk aplikasi gedung, rumah sakit, cleanroom, laboratorium, dan industri.

Contact

PT RIJOMAC SEMBILAN SEMBILAN
Controlled Environment Engineering

WhatsApp: 0818-704-677
Email: rijomac.system@gmail.com
Workshop: Gunung Putri, Bogor - Jawa Barat