Home » » BAB 9 DESAIN CLEANROOM DAN ZONING CONCEPT

BAB 9 DESAIN CLEANROOM DAN ZONING CONCEPT

HANDBOOK CLEANROOM ENGINEERING

Konsep, Desain, Konstruksi, dan Validasi Cleanroom

Penulis
Machfud

PT Rijomac Sembilan Sembilan


BAB 9

DESAIN CLEANROOM DAN ZONING CONCEPT

9.1 Pendahuluan

Banyak orang menganggap cleanroom dimulai dari pemilihan AHU, HEPA filter, atau sandwich panel.

Padahal cleanroom yang baik selalu dimulai dari pemahaman proses dan perencanaan layout yang benar.

Kesalahan desain pada tahap awal sering menyebabkan:

  • Alur kerja tidak efisien.
  • Risiko kontaminasi meningkat.
  • HVAC menjadi lebih mahal.
  • Operasional menjadi sulit.
  • Validasi menjadi bermasalah.

Karena itu desain cleanroom bukan sekadar menggambar ruangan, melainkan merancang bagaimana manusia, material, udara, dan proses dapat berjalan secara terkendali.


9.2 Filosofi Dasar Desain Cleanroom

Seorang Cleanroom Engineer harus selalu memulai dengan pertanyaan:

Apa yang terjadi di dalam ruangan ini?

Sebelum menentukan:

  • Luas ruangan
  • Jumlah HEPA
  • Kapasitas AHU
  • Jumlah pintu
  • Pressure Cascade

Engineer harus memahami proses yang akan berlangsung.

Karena setiap cleanroom pada dasarnya dibangun untuk mendukung proses tertentu.


9.3 User Requirement Specification (URS)

Sebelum memulai desain, diperlukan dokumen User Requirement Specification (URS).

URS berisi kebutuhan dasar pengguna, antara lain:

Fungsi Ruangan

Contoh:

  • Produksi Farmasi
  • Laboratorium Mikrobiologi
  • BSL-2 Laboratory
  • Ruang Isolasi
  • Penimbangan Bahan

Kapasitas Operasional

  • Jumlah operator
  • Jumlah material
  • Jam operasional
  • Kapasitas produksi

Parameter Lingkungan

  • ISO Class
  • Temperatur
  • RH
  • Differential Pressure
  • ACH

URS menjadi dasar seluruh proses desain.


9.4 Prinsip Zoning Cleanroom

Zoning adalah pembagian area berdasarkan tingkat kebersihan, risiko, dan fungsi.

Tujuan zoning:

  • Mengendalikan kontaminasi.
  • Mengendalikan pergerakan manusia.
  • Mengendalikan pergerakan material.
  • Mempermudah pressure cascade.

Semakin tinggi risiko kontaminasi, semakin ketat pengendalian yang diperlukan.


9.5 Pembagian Zona Berdasarkan Risiko

Secara umum cleanroom dapat dibagi menjadi:

Area Umum

Area tanpa kontrol khusus.

Contoh:

  • Kantor
  • Gudang umum
  • Koridor umum

Area Transisi

Area peralihan menuju cleanroom.

Contoh:

  • Gowning Room
  • Airlock
  • Material Airlock

Area Terkendali

Area dengan kontrol lingkungan tertentu.

Contoh:

  • Produksi
  • Laboratorium
  • Packaging

Area Kritis

Area dengan risiko tertinggi.

Contoh:

  • Filling Room
  • Sampling Booth
  • Biosafety Cabinet Area
  • Laminar Flow Area

9.6 Material Flow

Material Flow adalah jalur perpindahan material dari awal hingga akhir proses.

Tujuan utama:

  • Menghindari kontaminasi silang.
  • Menghindari crossing flow.
  • Meningkatkan efisiensi operasional.

Engineer harus memahami:

  • Dari mana material berasal.
  • Bagaimana material masuk.
  • Ke mana material bergerak.
  • Bagaimana material keluar.

Prinsip yang baik:

Material bersih dan material kotor tidak boleh saling bertemu.


9.7 Personnel Flow

Selain material, pergerakan personel juga harus dikendalikan.

Perjalanan operator biasanya melalui:

Koridor
→ Ganti Sepatu
→ Gowning Area
→ Airlock
→ Cleanroom

Tujuannya:

  • Mengurangi partikel yang dibawa manusia.
  • Mengurangi risiko kontaminasi.

Karena manusia merupakan sumber partikel terbesar dalam cleanroom.


9.8 Waste Flow

Waste Flow sering dilupakan dalam desain cleanroom.

Padahal limbah dapat menjadi sumber kontaminasi yang signifikan.

Prinsip dasar:

  • Jalur limbah tidak mengganggu jalur material bersih.
  • Jalur limbah tidak mengganggu jalur operator.
  • Limbah harus segera keluar dari area kritis.

9.9 Hubungan Zoning dan Pressure Cascade

Setiap zona biasanya memiliki tingkat tekanan yang berbeda.

Contoh:

Koridor : 0 Pa

Gowning : +5 Pa

Preparation : +10 Pa

Production : +15 Pa

Critical Area : +20 Pa

Dengan pengaturan tersebut udara bergerak dari area paling bersih menuju area yang kurang kritis.

Inilah dasar konsep Pressure Cascade yang telah dibahas pada bab sebelumnya.


9.10 Hubungan Zoning dan HVAC

Semakin tinggi tingkat kebersihan suatu zona, biasanya diperlukan:

  • ACH lebih tinggi.
  • Filtrasi lebih baik.
  • Monitoring lebih ketat.
  • Pressure lebih stabil.

Karena itu zoning sangat mempengaruhi desain HVAC.

Kesalahan zoning hampir selalu menyebabkan sistem HVAC menjadi tidak efisien.


9.11 Konsep Bubble dan Sink

Dalam desain cleanroom dikenal dua konsep utama:

Bubble Concept

Digunakan untuk melindungi produk.

Karakteristik:

  • Positive Pressure
  • Udara bergerak keluar

Contoh:

  • Cleanroom Farmasi
  • Ruang Operasi

Sink Concept

Digunakan untuk containment.

Karakteristik:

  • Negative Pressure
  • Udara bergerak masuk

Contoh:

  • Ruang Isolasi
  • BSL-2 Laboratory
  • Cytotoxic Room

Pemilihan konsep tergantung pada apa yang ingin dilindungi.


9.12 Layout Yang Baik

Layout cleanroom yang baik harus:

Sederhana

Mengurangi pergerakan yang tidak perlu.

Logis

Mengikuti urutan proses.

Aman

Mengurangi risiko kontaminasi silang.

Mudah Dioperasikan

Tidak menyulitkan pengguna.

Mudah Dipelihara

Mendukung maintenance jangka panjang.


9.13 Kesalahan Yang Sering Terjadi

Beberapa kesalahan desain yang sering ditemukan:

  • Layout mengikuti bentuk bangunan, bukan proses.
  • Material dan personel menggunakan jalur yang sama.
  • Tidak menyediakan airlock.
  • Pressure cascade sulit diterapkan.
  • Ruangan terlalu banyak atau terlalu sedikit.
  • Tidak memperhitungkan pengembangan masa depan.

Kesalahan tersebut biasanya sulit diperbaiki setelah konstruksi selesai.


9.14 Studi Kasus Sederhana

Misalnya sebuah fasilitas produksi farmasi.

Urutan area dapat berupa:

Koridor
→ Gowning
→ Preparation
→ Production
→ Packaging
→ Exit

Setiap area memiliki:

  • Fungsi berbeda.
  • Risiko berbeda.
  • Tekanan berbeda.
  • Kebutuhan HVAC berbeda.

Desain yang baik memastikan seluruh area bekerja sebagai satu sistem yang terintegrasi.


9.15 Filosofi Desain Cleanroom

Banyak orang berpikir desain cleanroom adalah menggambar ruangan.

Padahal desain cleanroom adalah merancang bagaimana proses berlangsung dengan aman dan terkendali.

Dinding hanyalah pembatas.

Pintu hanyalah akses.

AHU hanyalah alat.

Yang terpenting adalah bagaimana seluruh sistem mendukung tujuan proses.

Karena itu seorang Cleanroom Engineer harus memahami proses terlebih dahulu sebelum menggambar layout.


9.16 Ringkasan Bab

Desain cleanroom dimulai dari pemahaman proses, risiko, dan kebutuhan pengguna.

Melalui zoning yang tepat, pengendalian alur material, alur personel, alur limbah, serta penerapan pressure cascade yang sesuai, cleanroom dapat dirancang menjadi lingkungan yang aman, efisien, dan mudah dioperasikan.

Pada bab berikutnya akan dibahas mengenai Arsitektur Cleanroom, termasuk sandwich panel, ceiling system, flooring system, pintu, jendela, dan elemen konstruksi yang membentuk fasilitas cleanroom.

Contact

PT RIJOMAC SEMBILAN SEMBILAN
Controlled Environment Engineering

WhatsApp: 0818-704-677
Email: rijomac.system@gmail.com
Workshop: Gunung Putri, Bogor - Jawa Barat