Home » » BAB 5 LATENT HEAT

BAB 5 LATENT HEAT

HANDBOOK HVAC FORMULA

RIJOMAC SYSTEM

Controlled Environment Engineering


5.1 PENDAHULUAN

Selain Sensible Heat yang menyebabkan perubahan temperatur, terdapat jenis panas lain yang sangat penting dalam dunia HVAC, yaitu:

Latent Heat

Pada banyak aplikasi seperti:

  • Cleanroom

  • Industri Farmasi

  • Rumah Sakit

  • Laboratorium

  • Industri Makanan & Minuman

  • Dehumidification System

pengendalian Latent Heat sering kali lebih sulit dibanding pengendalian Sensible Heat.

Banyak ruangan mampu mencapai temperatur desain, tetapi gagal mencapai kelembapan yang dipersyaratkan karena Latent Heat tidak diperhitungkan dengan benar.


5.2 APA ITU LATENT HEAT?

Latent Heat adalah energi panas yang berhubungan dengan perubahan kandungan uap air tanpa menyebabkan perubahan temperatur yang signifikan.

Dalam HVAC, Latent Heat berkaitan dengan:

✓ Penguapan air

✓ Kondensasi uap air

✓ Kelembapan udara

✓ Dehumidifikasi


Contoh sederhana:

Dua ruangan memiliki suhu yang sama:

22°C

Namun:

Ruangan A = 50% RH

Ruangan B = 80% RH

Walaupun temperaturnya sama, jumlah uap air di dalam udara berbeda.

Perbedaan inilah yang berhubungan dengan Latent Heat.


5.3 KARAKTERISTIK LATENT HEAT

Latent Heat:

✓ Berhubungan dengan kelembapan

✓ Tidak selalu menyebabkan perubahan temperatur

✓ Tidak dapat dinilai hanya dengan termometer

✓ Sangat mempengaruhi RH dan Dew Point


5.4 SUMBER LATENT HEAT

Sumber utama Latent Heat dalam sistem HVAC:

Manusia

Pernapasan dan aktivitas tubuh menghasilkan uap air.


Udara Luar

Fresh Air membawa kelembapan dari lingkungan.


Infiltrasi

Udara luar masuk melalui celah pintu, panel, dan konstruksi.


Proses Produksi

Pencucian, pengeringan, pemasakan, dan proses basah lainnya.


Produk

Produk tertentu dapat melepaskan kelembapan ke udara.


5.5 APA ITU MOISTURE LOAD?

Moisture Load adalah jumlah uap air yang harus dihilangkan dari udara untuk mencapai kondisi desain.

Satuan yang umum digunakan:

  • kg/jam

  • gram/jam

  • liter/jam


Moisture Load menjadi dasar dalam:

✓ Perhitungan dehumidifikasi

✓ Pemilihan cooling coil

✓ Pemilihan dehumidifier

✓ Perhitungan RH


5.6 HUMIDITY RATIO

Untuk menghitung Moisture Load digunakan parameter:

Humidity Ratio (W)

Humidity Ratio menunjukkan jumlah uap air yang terkandung dalam udara.

Satuan:

g/kg

atau

kg/kg dry air


Contoh:

24°C

50% RH

Humidity Ratio ≈ 9 g/kg


Artinya:

Setiap 1 kg udara kering mengandung sekitar 9 gram uap air.


5.7 RUMUS DASAR MOISTURE LOAD

Pendekatan umum:

M=\dot m\times(W_1-W_2)

Keterangan:

M = Moisture Load

ṁ = Massa udara

W₁ = Humidity Ratio awal

W₂ = Humidity Ratio akhir


5.8 MEMAHAMI RUMUS

Jika udara masuk memiliki kandungan uap air lebih tinggi dibanding kondisi target, maka sistem HVAC harus menghilangkan selisih tersebut.

Semakin besar selisih Humidity Ratio:

Semakin besar Moisture Load.


5.9 CONTOH PERHITUNGAN MOISTURE LOAD

Data:

Airflow = 2.000 CMH

Humidity Ratio awal = 12 g/kg

Humidity Ratio akhir = 8 g/kg


Selisih:

12 - 8

= 4 g/kg


Artinya:

Sistem harus menghilangkan sejumlah uap air agar kondisi target dapat tercapai.


5.10 LATENT COOLING LOAD

Latent Cooling Load adalah kapasitas pendinginan yang digunakan untuk menghilangkan uap air dari udara.

Berbeda dengan Sensible Cooling yang menurunkan temperatur.

Latent Cooling digunakan untuk:

✓ Menurunkan RH

✓ Menurunkan Dew Point

✓ Mengurangi Moisture Content


5.11 TOTAL COOLING LOAD

Pada sistem HVAC:

Total Cooling Load terdiri dari:

✓ Sensible Heat

✓ Latent Heat


Rumus:

Q_t=Q_s+Q_l

Keterangan:

Qt = Total Cooling Load

Qs = Sensible Heat

Ql = Latent Heat


5.12 LATENT HEAT DAN RH

Banyak engineer pemula hanya melihat temperatur.

Padahal RH sering menjadi indikator utama keberhasilan sistem HVAC.


Contoh:

Target:

22°C

50% RH


Aktual:

22°C

75% RH


Temperatur sudah sesuai.

Namun sistem masih gagal karena Latent Heat belum teratasi.


5.13 LATENT HEAT DAN DEW POINT

Latent Heat sangat erat hubungannya dengan:

✓ Dew Point

✓ Humidity Ratio

✓ Moisture Load


Semakin besar kandungan uap air:

Semakin tinggi Dew Point.


5.14 LATENT HEAT DAN COOLING COIL

Cooling Coil dapat menghilangkan Latent Heat jika:

Temperatur Coil < Dew Point Udara


Jika kondisi tersebut terpenuhi:

✓ Kondensasi terjadi

✓ Uap air berkurang

✓ RH turun


5.15 LATENT HEAT DAN DEHUMIDIFIER

Pada kondisi kelembapan tinggi, Cooling Coil saja terkadang tidak cukup.

Digunakan:

✓ Refrigeration Dehumidifier

✓ Desiccant Dehumidifier


Tujuannya:

Menghilangkan Moisture Load secara lebih efektif.


5.16 LATENT HEAT DAN CLEANROOM

Pada cleanroom:

Latent Heat dapat berasal dari:

✓ Operator

✓ Fresh Air

✓ Infiltrasi

✓ Proses produksi


Jika tidak dikendalikan:

✓ RH meningkat

✓ Produk terganggu

✓ Risiko kondensasi meningkat


5.17 LATENT HEAT DAN FARMASI

Pada industri farmasi:

Latent Heat menjadi faktor yang sangat kritis.

Karena banyak produk bersifat:

✓ Higroskopis

✓ Sensitif terhadap kelembapan


Kontrol RH menjadi bagian penting dari kualitas produk.


5.18 LATENT HEAT DAN RUMAH SAKIT

Pada fasilitas kesehatan:

Kelembapan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan:

✓ Ketidaknyamanan

✓ Risiko mikrobiologi meningkat

✓ Kondensasi

✓ Kerusakan material


Karena itu RH biasanya dikontrol pada rentang tertentu.


5.19 STUDI KASUS

Kasus:

Ruang Produksi Farmasi.


Target:

22°C

50% RH


Aktual:

22°C

70% RH


Investigasi:

✓ Cooling Capacity cukup

✓ Temperatur tercapai

✓ Airflow normal


Ditemukan:

Fresh Air terlalu besar.

Moisture Load meningkat.


Solusi:

Mengendalikan Fresh Air dan meningkatkan kapasitas dehumidifikasi.


5.20 KESALAHAN UMUM

✗ Hanya melihat temperatur.

✗ Mengabaikan RH.

✗ Mengabaikan Moisture Load.

✗ Mengabaikan Fresh Air.

✗ Mengabaikan Infiltrasi.

✗ Menganggap semua masalah dapat diselesaikan dengan menambah AC.


5.21 CARA BERPIKIR ENGINEER

Ketika RH tinggi, banyak orang bertanya:

"Tambah AC lagi?"

Engineer akan bertanya:

✓ Berapa Moisture Load?

✓ Berapa Dew Point?

✓ Berapa Humidity Ratio?

✓ Berapa Fresh Air?

✓ Berapa Infiltrasi?

✓ Berapa Kapasitas Dehumidifikasi?

Karena RH yang tinggi biasanya merupakan akibat, bukan penyebab.


5.22 RINGKASAN

Latent Heat adalah energi yang berhubungan dengan kandungan uap air dalam udara.

Prinsip penting:

✓ Latent Heat mempengaruhi RH.

✓ Latent Heat mempengaruhi Dew Point.

✓ Moisture Load menentukan kebutuhan dehumidifikasi.

✓ Cooling Coil dan Dehumidifier digunakan untuk mengendalikan Latent Heat.

Rumus dasar yang perlu dipahami:

M=\dot m\times(W_1-W_2)

Dalam banyak aplikasi HVAC modern, mengendalikan Latent Heat sering kali lebih sulit daripada mengendalikan temperatur.

Karena pada akhirnya HVAC bukan hanya tentang udara dingin.

HVAC juga tentang udara yang memiliki kandungan kelembapan yang tepat.

Contact

PT RIJOMAC SEMBILAN SEMBILAN
Controlled Environment Engineering

WhatsApp: 0818-704-677
Email: rijomac.system@gmail.com
Workshop: Gunung Putri, Bogor - Jawa Barat