Home » » BAB 13 MONITORING SYSTEM DAN BUILDING MANAGEMENT SYSTEM (BMS)

BAB 13 MONITORING SYSTEM DAN BUILDING MANAGEMENT SYSTEM (BMS)

HANDBOOK CLEANROOM ENGINEERING

Konsep, Desain, Konstruksi, dan Validasi Cleanroom

Penulis
Machfud

PT Rijomac Sembilan Sembilan


BAB 13

MONITORING SYSTEM DAN BUILDING MANAGEMENT SYSTEM (BMS)

13.1 Pendahuluan

Sebuah cleanroom tidak cukup hanya dirancang dan dibangun dengan baik.

Cleanroom juga harus mampu mempertahankan performanya setiap hari selama operasional berlangsung.

Pertanyaannya adalah:

Bagaimana kita mengetahui bahwa cleanroom masih bekerja sesuai desain?

Jawabannya adalah melalui sistem monitoring.

Monitoring memungkinkan operator, engineer, dan manajemen mengetahui kondisi aktual cleanroom secara real-time sehingga penyimpangan dapat segera terdeteksi dan ditindaklanjuti.

Dalam fasilitas modern, monitoring bukan lagi pilihan, tetapi bagian penting dari sistem pengendalian lingkungan.


13.2 Mengapa Monitoring Diperlukan?

Tujuan utama monitoring adalah memastikan seluruh parameter lingkungan tetap berada dalam batas yang telah ditentukan.

Tanpa monitoring:

  • Gangguan sistem sulit diketahui.
  • Risiko kontaminasi meningkat.
  • Penyimpangan tidak terdeteksi.
  • Investigasi menjadi sulit.
  • Validasi kehilangan dasar pembuktian.

Monitoring membantu memastikan cleanroom tetap berada dalam kondisi yang sesuai dengan kebutuhan proses.


13.3 Filosofi Monitoring Cleanroom

Prinsip dasar monitoring adalah:

"Anda tidak dapat mengendalikan sesuatu yang tidak dapat diukur."

Karena itu seluruh parameter penting harus dapat diukur, dicatat, dan dievaluasi.

Monitoring bukan sekadar menampilkan angka.

Monitoring adalah alat pengambilan keputusan.


13.4 Parameter Yang Umum Dimonitor

Setiap cleanroom memiliki kebutuhan berbeda.

Namun secara umum parameter berikut perlu dipantau.

Temperatur

Menjaga stabilitas kondisi proses dan kenyamanan operator.


Relative Humidity (RH)

Menjaga kelembapan sesuai kebutuhan produk dan proses.


Differential Pressure

Memastikan pressure cascade tetap berjalan sesuai desain.


Airflow

Memastikan distribusi udara tetap sesuai kebutuhan.


Status Filter

Memantau kondisi filter dan menentukan waktu penggantian.


Status Peralatan

Memantau kondisi:

  • AHU
  • Exhaust Fan
  • Dehumidifier
  • Air Shower
  • Sistem pendukung lainnya

13.5 Monitoring Temperatur

Temperatur biasanya dipantau menggunakan:

Temperature Sensor

Memberikan data real-time.

Thermostat

Mengontrol sistem pendinginan.

Data Logger

Merekam histori temperatur secara berkelanjutan.

Posisi sensor harus mewakili kondisi ruangan yang sebenarnya.


13.6 Monitoring Kelembapan (RH)

RH dipantau menggunakan:

Humidity Sensor

Menampilkan kondisi kelembapan saat ini.

Humidity Transmitter

Mengirimkan sinyal ke sistem kontrol atau BMS.

Pada fasilitas tertentu, RH merupakan parameter kritis yang harus dipantau secara terus menerus.


13.7 Monitoring Differential Pressure

Differential Pressure merupakan salah satu parameter terpenting dalam cleanroom.

Peralatan yang umum digunakan:

Magnehelic Gauge

Indikator analog yang sederhana dan andal.

Digital Differential Pressure Monitor

Memberikan pembacaan yang lebih akurat dan mudah dipantau.

Pressure Transmitter

Digunakan untuk integrasi dengan BMS.

Monitoring tekanan membantu memastikan arah airflow tetap sesuai desain.


13.8 Monitoring Filter

Filter yang kotor dapat menyebabkan:

  • Airflow menurun.
  • Konsumsi energi meningkat.
  • Tekanan berubah.
  • Kinerja HVAC menurun.

Karena itu diperlukan pemantauan tekanan sebelum dan sesudah filter.

Parameter yang umum dipantau:

Differential Pressure Across Filter

Digunakan untuk menentukan kapan filter perlu diganti.


13.9 Alarm System

Monitoring yang baik harus dilengkapi alarm.

Alarm berfungsi memberikan peringatan apabila parameter keluar dari batas yang ditentukan.

Contoh alarm:

High Temperature

Suhu melebihi batas.

Low Temperature

Suhu terlalu rendah.

High RH

Kelembapan terlalu tinggi.

Low RH

Kelembapan terlalu rendah.

Pressure Failure

Pressure cascade terganggu.

Equipment Failure

Peralatan berhenti bekerja.

Alarm memungkinkan tindakan korektif dilakukan lebih cepat.


13.10 Data Logging

Selain monitoring real-time, data juga perlu direkam.

Tujuan data logging:

  • Dokumentasi.
  • Investigasi.
  • Audit.
  • Validasi.
  • Trending analysis.

Data historis membantu engineer memahami perilaku sistem dalam jangka panjang.


13.11 Building Management System (BMS)

BMS adalah sistem terintegrasi yang digunakan untuk memantau dan mengendalikan berbagai sistem bangunan.

Dalam cleanroom, BMS dapat mengintegrasikan:

  • HVAC
  • Temperatur
  • RH
  • Pressure
  • Alarm
  • Lighting
  • Utility System

Sehingga seluruh parameter dapat dipantau dari satu pusat kontrol.


13.12 Fungsi BMS Pada Cleanroom

Monitoring Terpusat

Semua parameter dapat dilihat dalam satu layar.

Alarm Management

Peringatan dapat dikirim secara otomatis.

Data Recording

Menyimpan histori parameter.

Trend Analysis

Membantu analisis performa sistem.

Reporting

Membantu penyusunan laporan operasional dan audit.


13.13 Monitoring Pressure System (MPS)

Pada banyak proyek cleanroom modern digunakan sistem khusus untuk memonitor tekanan.

Sistem ini biasanya terdiri dari:

  • Pressure Sensor
  • Digital Display
  • Alarm
  • Communication Module

Keuntungan:

  • Mudah dibaca.
  • Akurat.
  • Mendukung audit.
  • Terintegrasi dengan BMS.

Monitoring Pressure System menjadi salah satu komponen penting dalam menjaga pressure cascade.


13.14 Tingkatan Monitoring

Local Monitoring

Parameter ditampilkan langsung di ruangan.

Contoh:

  • Magnehelic
  • Temperature Display

Central Monitoring

Semua parameter dikumpulkan pada satu panel atau ruang kontrol.


Remote Monitoring

Data dapat diakses melalui jaringan komputer atau internet.

Memungkinkan pemantauan dari lokasi berbeda.


13.15 Kesalahan Yang Sering Terjadi

Beberapa kesalahan yang sering ditemukan:

  • Sensor tidak dikalibrasi.
  • Posisi sensor tidak representatif.
  • Alarm dimatikan.
  • Data tidak pernah dievaluasi.
  • Tidak ada histori data.
  • Monitoring hanya dipasang untuk memenuhi persyaratan audit.

Monitoring yang baik harus menjadi bagian dari operasional sehari-hari.


13.16 Kalibrasi dan Verifikasi

Keakuratan monitoring bergantung pada kualitas sensor.

Karena itu diperlukan:

Kalibrasi Berkala

Menjamin akurasi alat ukur.

Verifikasi Berkala

Memastikan sistem tetap bekerja sesuai desain.

Kalibrasi merupakan bagian penting dari sistem mutu dan validasi.


13.17 Filosofi Monitoring Cleanroom

Banyak orang menganggap monitoring hanya sebagai tampilan angka di layar.

Padahal monitoring adalah "mata" dari sebuah cleanroom.

Tanpa monitoring, engineer tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

Tanpa data, keputusan hanya berdasarkan asumsi.

Karena itu monitoring bukan sekadar alat bantu.

Monitoring adalah bagian dari sistem pengendalian lingkungan itu sendiri.


13.18 Ringkasan Bab

Monitoring System dan Building Management System (BMS) berfungsi memastikan seluruh parameter cleanroom tetap berada dalam batas yang telah ditentukan.

Melalui pemantauan temperatur, RH, differential pressure, airflow, dan status peralatan, operator dapat menjaga stabilitas lingkungan serta mendeteksi penyimpangan sejak dini.

Pada bab berikutnya akan dibahas mengenai Testing, Adjusting & Balancing (TAB), yaitu proses memastikan seluruh sistem HVAC bekerja sesuai dengan desain yang telah direncanakan.

Contact

PT RIJOMAC SEMBILAN SEMBILAN
Controlled Environment Engineering

WhatsApp: 0818-704-677
Email: rijomac.system@gmail.com
Workshop: Gunung Putri, Bogor - Jawa Barat