Home » » BAB 6 TEMPERATUR DAN KELEMBAPAN

BAB 6 TEMPERATUR DAN KELEMBAPAN

HANDBOOK CLEANROOM ENGINEERING

Konsep, Desain, Konstruksi, dan Validasi Cleanroom

Penulis
Machfud

PT Rijomac Sembilan Sembilan

Medical HVAC • Cleanroom • Controlled Environment Engineering 

BAB 6

TEMPERATUR DAN KELEMBAPAN

6.1 Pendahuluan

Ketika membahas cleanroom, banyak orang langsung berpikir tentang partikel, HEPA filter, dan tekanan ruangan.

Padahal dalam banyak aplikasi, kegagalan proses justru lebih sering disebabkan oleh temperatur dan kelembapan yang tidak terkendali.

Produk farmasi dapat rusak.

Bahan higroskopis dapat menyerap uap air.

Peralatan dapat mengalami kondensasi.

Mikroorganisme dapat berkembang lebih cepat.

Operator dapat merasa tidak nyaman.

Karena itu pengendalian temperatur dan kelembapan merupakan bagian penting dari sistem cleanroom dan controlled environment.


6.2 Mengapa Temperatur Penting?

Temperatur mempengaruhi:

  • Stabilitas produk
  • Kenyamanan operator
  • Kinerja peralatan
  • Konsistensi proses
  • Konsumsi energi

Perubahan temperatur yang terlalu besar dapat menyebabkan variasi kualitas produk dan mengganggu proses produksi.

Dalam banyak aplikasi cleanroom, temperatur tidak hanya dikontrol agar dingin, tetapi agar tetap stabil.


6.3 Mengapa Kelembapan Penting?

Kelembapan atau Relative Humidity (RH) merupakan jumlah uap air yang terkandung di udara dibandingkan kapasitas maksimum udara tersebut pada temperatur tertentu.

Kelembapan yang tidak terkendali dapat menyebabkan berbagai masalah.

RH Terlalu Tinggi

Dapat menyebabkan:

  • Pertumbuhan jamur
  • Pertumbuhan bakteri
  • Kerusakan produk
  • Korosi peralatan
  • Kondensasi

RH Terlalu Rendah

Dapat menyebabkan:

  • Listrik statis (ESD)
  • Keretakan material tertentu
  • Ketidaknyamanan operator
  • Gangguan proses tertentu

Karena itu setiap proses memiliki kebutuhan RH yang berbeda.


6.4 Hubungan Temperatur dan Kelembapan

Temperatur dan kelembapan tidak dapat dipisahkan.

Ketika temperatur berubah, kemampuan udara menyimpan uap air juga berubah.

Contoh:

Udara pada suhu tinggi mampu menyimpan lebih banyak uap air dibandingkan udara dingin.

Karena itu pengendalian RH hampir selalu melibatkan pengendalian temperatur.

Dalam praktik HVAC, keduanya harus dipertimbangkan secara bersamaan.


6.5 Parameter Umum Cleanroom

Nilai temperatur dan RH harus ditentukan berdasarkan kebutuhan proses.

Contoh parameter yang umum digunakan:

Aplikasi

Temperatur

RH

Cleanroom Farmasi

20–24°C

45–60%

Laboratorium

20–25°C

40–60%

Rumah Sakit

22–26°C

40–60%

Industri Elektronik

21–24°C

40–55%

Dry Room

<22°C

<10% RH

Nilai tersebut hanya sebagai referensi awal dan dapat berbeda tergantung kebutuhan pengguna.


6.6 Beban Panas Dalam Cleanroom

Sebelum menentukan kapasitas HVAC, engineer harus memahami sumber panas yang ada.

Beban panas dapat berasal dari:

Manusia

Setiap orang menghasilkan panas dan kelembapan.

Peralatan

Mesin produksi sering menjadi sumber panas terbesar.

Pencahayaan

Lampu juga menghasilkan panas.

Lingkungan Luar

Panas dapat masuk melalui:

  • Dinding
  • Atap
  • Jendela
  • Infiltrasi udara

Semua faktor tersebut harus diperhitungkan dalam desain HVAC.


6.7 Pengendalian Temperatur

Temperatur biasanya dikendalikan melalui sistem HVAC.

Komponen utama yang berperan:

  • Air Handling Unit (AHU)
  • Cooling Coil
  • Chiller
  • Split Duct
  • Precision Air Conditioner

Tujuannya bukan hanya mencapai temperatur tertentu, tetapi menjaga stabilitas temperatur selama operasional.


6.8 Pengendalian Kelembapan

Kelembapan dapat dikendalikan melalui beberapa metode.

Cooling and Reheat

Metode paling umum.

Udara didinginkan hingga uap air mengembun, kemudian dipanaskan kembali jika diperlukan.


Refrigeration Dehumidifier

Menggunakan sistem refrigerasi untuk mengurangi kandungan uap air.

Umumnya digunakan untuk aplikasi RH menengah.


Desiccant Dehumidifier

Menggunakan rotor desiccant untuk menyerap uap air.

Cocok untuk:

  • RH rendah
  • Dry Room
  • Industri farmasi
  • Industri baterai
  • Proses higroskopis

6.9 Kondensasi dan Titik Embun

Kondensasi terjadi ketika temperatur permukaan berada di bawah titik embun udara.

Akibatnya:

  • Timbul air pada permukaan
  • Risiko korosi meningkat
  • Risiko pertumbuhan mikroorganisme meningkat

Engineer harus memahami konsep dew point untuk mencegah masalah ini.


6.10 Dry Room dan Low Humidity Environment

Beberapa proses memerlukan kelembapan sangat rendah.

Contohnya:

  • Produksi baterai lithium
  • Penanganan bahan higroskopis
  • Industri tertentu yang sensitif terhadap air

Pada aplikasi ini biasanya digunakan:

  • Desiccant Dehumidifier
  • Sistem regenerasi
  • Airlock khusus
  • Monitoring RH yang lebih ketat

Kontrol kelembapan sering menjadi parameter utama dibanding temperatur.


6.11 Monitoring Temperatur dan RH

Parameter temperatur dan RH harus dipantau secara berkala.

Metode monitoring meliputi:

  • Thermo Hygrometer
  • Digital Room Monitor
  • BMS (Building Management System)
  • Data Logger

Monitoring yang baik membantu memastikan kondisi lingkungan tetap sesuai spesifikasi.


6.12 Kesalahan Yang Sering Terjadi

Beberapa kesalahan yang sering ditemui di lapangan:

  • Fokus pada suhu tetapi mengabaikan RH.
  • Menggunakan AC biasa untuk kebutuhan RH rendah.
  • Tidak menghitung beban kelembapan dari proses.
  • Penempatan sensor yang tidak tepat.
  • Tidak memperhitungkan infiltrasi udara luar.

Kesalahan-kesalahan tersebut sering menyebabkan sistem tidak mencapai performa yang diharapkan.


6.13 Filosofi Temperatur dan Kelembapan

Banyak orang berpikir bahwa HVAC hanya bertugas membuat ruangan dingin.

Padahal dalam cleanroom, HVAC bertugas menciptakan kondisi lingkungan yang stabil.

Produk tidak peduli apakah operator merasa dingin atau panas.

Produk hanya "melihat" kondisi lingkungan tempat ia diproses.

Karena itu tugas engineer bukan menciptakan ruangan yang dingin.

Tugas engineer adalah menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan proses.


6.14 Ringkasan Bab

Temperatur dan kelembapan merupakan parameter penting dalam cleanroom dan controlled environment.

Keduanya mempengaruhi kualitas produk, kenyamanan operator, stabilitas proses, serta kinerja fasilitas secara keseluruhan.

Pemahaman terhadap beban panas, beban kelembapan, metode pengendalian, dan monitoring menjadi dasar dalam merancang sistem HVAC yang efektif dan andal.

Pada bab berikutnya akan dibahas mengenai Pressure Cascade dan Differential Pressure, yang merupakan salah satu prinsip utama dalam pengendalian arah perpindahan kontaminasi di cleanroom.

Contact

PT RIJOMAC SEMBILAN SEMBILAN
Controlled Environment Engineering

WhatsApp: 0818-704-677
Email: rijomac.system@gmail.com
Workshop: Gunung Putri, Bogor - Jawa Barat